Tuai polemik, soal subsidi beras Disperindag KBB dianggap tembang pilih

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Pedagang beras di pasar tradisional Tagog Padalarang, Kecamatan Padalarang KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat | SekitarKita.id,- Pendistribusian beras subsidi nan di gelontorkan pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) ke sejumlah pedagang pasar tradisional perlu dievaluasi ulang.

Pasalnya, upaya niat baik pemerintah Bandung Barat menyalurkan beras subsidi ditengah tingginya nilai beras di sejumlah wilayah, justru menuai polemik dikalangan para pedagang pasar tradisional.

Salah satu contohnya pasar tradisional Tagog Padalarang, Kecamatan Padalarang KBB, dari puluhan pedagang beras nan tercatat, hanya 5 orang nan mendapatkan jatah beras subsidi dan itu bertahap.

IKLAN

vps forex murah

GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN

“Ada sekitar 10 pedagang disini, jika nan dapet itu 5 orang, jika enggak salah sudah tiga kali nan pertama pas ada Pj Bupati dan ini nan ketiga,” kata salah satu pedagang Hj, Suhaya (58) saat ditemui SekitarKita.id ekslusif dirilis, Jumat (1/03/2024).

Ia mengatakan, beras subsidi nan turun terakhir dari Pemda Bandung Barat itu sebanyak 5 ton, setiap pedagang hanya mendapatkan jatah beras subsidi 1 ton.

“Kemarin dapet 1 ton ukuran 5 kilogram dan 50 kilogram, itu sudah dikasih dalam corak bungkusan (merek),” ujar dia.

Dijelaskan Suhaya, kelima pedagang nan mendapatkan subsidi beras itu hanya pedagang nan sudah tercatat sebagai personil koperasi pesantren, dimana koperasi tersebut nan ditunjuk langsung Dinas Perindustrian dan Perdagangan  (Disperindag) Perindag KBB.

 Abdul Kholilulloh)Kondisi Pasar Tagog Padalarang, Kecamatan Padalarang KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

“Yang lain enggak dapet lantaran belum masuk personil koperasi, jika saya dan ke empat pedagang lainnya kan udah masuk personil koperasi,” jelas dia.

Kendati itu, pihaknya sangat menyayangkan beras subsidi nan digelontorkan Pemkab Bandung Barat hanya kebagian jatah 1 ton, dalam dua hari beras subsidi tersebut langsung habis.

“2 hari udah lenyap lantaran konsumen memang mencari nan murah, jika nilai beras subsidi itu antara Rp10.500 per kilogram sampai Rp10.900 perkilogram, kualitasnya sih bagus enggak jauh beda dari biasanya, ya alhamdulilah sih,” ujar dia.

“Saya sih berambisi beras terus disubsidi ya apalagi mau bulan puasa, jika sekarang beras nan saya jual nan nilai Rp.15.500-Rp16.500 perkilogram lantaran nan subsidi udah habis, duh kumaha nya kang nilai beras engak turun turun pembeli sepi,” keluhnya.

Sementara itu, salah satu pedagang beras nan enggan disebutkan namanya itu mengaku tidak mendapatkan beras subsidi dari pemkab Bandung Barat.

Ia tidak mengetahui pasti apa argumen dirinya tak mendapatkan beras tersebut, mengingat saat ini beras subsidi nan notabene nya lebih murah dari nilai beras normal sangatlah dibutuhkan.

“enggak tau kang saya mah enggak dapet mungkin lantaran baru berdagang disini, nan dapet nan udah jadi personil koperasi saya kan belum,” jelas dia.

Humas PT Bangun Bina Persada (BP), Daryo Solehudin menanggapi polemik dikalangan pedagang dianggap tembang pilih, soal pendistribusian, dia tak mengetahui secara pasti.

PT Bangun Bina PersadaPT Bangun Bina Persada

Pasalnya, kata Daryo, pihak pengelola pasar maupun paguyuban pasar tidak dilibatkan dalam pendistribusian beras subsidi Bulog, dalam perihal ini Disperindag KBB langsung menunjuk pihak ke tiga ialah koperasi pesantren.

“Jadi kami (PT Bina Bangun Persada) sebagai pengelola pasar Tagog tidak dilibatkan dalam penyaluran beras ke pedagang, Disperindag KBB melalui UPTD itu menyalurkan langsung lewat koperasi pesantren,” kata Daryo.

Ia menjelaskan, dari puluhan pedagang beras di pasar Tagog ini nan mendapatkan jatah 5 ton beras subsidi itu hanya 5 orang pedagang, perihal itu nan dinilai menjadi kecemburuan sosial bagi pedagang lain.

“Dari ke 5 pedagang itu mendapatkan jatah per orangnya 1 ton dengan sudah dikemas dalam ukuran bervariatif antara 5 kg dan 50 kg menggunakan merek mereka,” jelasnya.

Humas PT Bangun Bina Persada (BP), Daryo SolehudinHumas PT Bangun Bina Persada (BP), Daryo Solehudin

Dilanjutkan Daryo, dari 5 orang pedagang ini nan mendapatkan beras subsidi itu nan masuk personil koperasi pesantren, pihaknya hanya mengetahui saja ada beras subsidi datang.

“Kami hanya mengetahui saja ya lantaran jika ada peralatan nan datang itu ada keamanan pasar nan bertanggung jawab, bakal tetapi penyaluran dan siapa saja nan dipilih mendapatkan beras tersebut hanya pihak Disperindag KBB dan pihak koperasi pesantren nan mengetahui,” jelas dia kembali.

“Sekali lagi kami tidak dilibatkan dalam penyaluran beras subsidi, silahkan tanyakan saja kepada pihak koperasi pesantren alias Disperindag KBB langsung,” sambungnya.

Daryo memaparkan, terkait kategori untuk menjadi personil koperasi pesantren itu, pihaknya tidak mengetahui secara pasti nan jelas penyaluran beras subsidi itu, diakui dia, memang dalam sistem penyaluran kudu berdasarkan badan hukum.

“Nah nan menjadi polemik para pedagang itu nan tidak masuk personil koperasi pesantren sehingga mereka tidak mendapatkan jatah beras subsidi, saya juga tidak tahu apa syarat menjadi personil silahkan saja ke koperasi pesantren,” ujarnya.

Dalam penyaluran itu, lanjut Daryo, Bulog bakal memandang info di KBB mana saja koperasi nan sudah mempunyai legalitas hukum, agar pendistribusian sigap tersalurkan.

“Mungkin kebetulan koperasi pesantren lah nan ditunjuk KBB untuk pendistribusian itu, sebenernya kami bukan tidak bisa mendistribusikan, contoh Paguyuban pedagang itu kan udah berbadan norma dan punya legalitas saya udah pernah menyarankan kepada pedagang untuk dibuatkan koperasi ekonomi, jika misal ada support subsidi dari pemerintah tidak perlu menggunakan orang luar dan pedagang itu bisa tercover,” jelasnya.

Saat disinggung adanya dugaan penimbunan beras subsidi, pihaknya membantah bahwa perihal itu tidaklah sangat mungkin dilakukan para pengelola pasar Tagog.

“Memang kemarin sempet rame, ada nan bilang di oplos lah, di timbun lah lantaran dari 10 pedagang hanya 5 orang nan kebagian terus sisanya kemana, ada nan seperti itu nanya, logikanya kita kan enggak terlibat hanya mengetahui peralatan itu datang saja itu ajah laporan dari petugas keamanan, coba tanyakan ke koperasi pesantren dan Disperindag,” tegas Daryo membantah.

Daryo juga menyebut, pihaknya juga sudah berupaya mendorong kepada koperasi pesantren agar seluruh pedagang beras merata mendapatkan beras subsidi agar tidak terjadi pro dan kontra.

“Kami sudah upaya sampaikan itu agar merata, kemungkinan kouta itu terbatas maka pembagian itu di batasi kan juga di bagi ke seluruh pasar tradisional, kaya pasar Lembang dan Batujajar, kedepannya para pedagang kudu membikin koperasi sendiri melalui paguyuban agar support subsidi pemerintah langsung ke pedagang nan mengelola,” tandasnya.

Selengkapnya
Sumber Kabar SekitarKita
Kabar SekitarKita