Saya Secara Teratur Berbicara Dengan Suami Saya yang Sudah Meninggal | Jamie Turndorf

Sedang Trending 3 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Saat saya tetap kecil, saya menerima firasat rinci tentang laki-laki nan suatu hari bakal saya nikahi. Jadi saya puas menunggu dia muncul. Dan dia muncul pada hari pertama tahun pertamaku di Vassar Faculty. Saya telah dikeluarkan dari semua kelas pengantar sosiologi dan saya diberitahu untuk bertanya kepada Jean Pin, ketua departemen, apakah dia dapat menemukan tempat untuk saya di salah satu kelas tertutup. Saya tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama… sampai saya masuk ke kantornya. Jean adalah laki-laki tercantik nan pernah kulihat, bukan hanya secara fisik. Dia memancarkan keelokan batin, kebaikan, dan kelembutan.

Tanpa peringatan, saya merasakan jiwa saya melesat dengan kecepatan tinggi melalui terowongan menuju akhir hidup saya. Saya menerima pesan bahwa saya kudu mengingat setiap aspek pertemuan kami lantaran dia bakal menjadi segalanya bagi saya suatu hari nanti. Saya segera mengetahui bahwa, nyaris sepanjang hidupnya, Jean adalah salah satu pendeta Jesuit paling terkenal dalam sejarah. Seorang pionir kepercayaan nan mengajar di Vatikan, dia menjadi terkenal di bumi internasional ketika dia secara terbuka menentang upaya Paus dan gereja Katolik untuk memblokir legalisasi perceraian. Perjuangannya berujung pada legalisasi perceraian. Segera setelah itu, Paus memberinya pengecualian sumpahnya dan dia meninggalkan ordo Jesuit dan imamat dan direkrut oleh Vassar.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN

TERKAIT: Hadiah nan Saya Terima dari Suami Saya nan Telah Meninggal Mengubah Hidup Saya Selamanya

Empat tahun setelah pertemuan kami nan ditakdirkan, saya memerlukan support dengan bagian statistik dari tesis senior saya dan pembimbing saya tidak mengetahui statistik. Meskipun saya bukan penasihatnya, Jean dengan senang hati memberi saya waktunya. Dalam minggu-minggu berikutnya, kami jatuh cinta. Terlepas dari perbedaan usia kami nan sangat jauh dan latar belakang budaya serta kepercayaan nan berbeda (saya dibesarkan oleh dua orang ateis Yahudi nan mengajari saya untuk tidak percaya pada Tuhan alias akhirat. Dan satu-satunya kepercayaan nan mereka anut adalah kepercayaan nan saling membenci) kami sepenuhnya cocok. Anak kembar dipisahkan saat lahir. Pasangan hidup.

Kami menyukai aktivitas, musik, buku, dan kegemaran nan sama. Kami menulis kitab bersama, menjalankan upaya bersama, memulihkan dan mendekorasi rumah bersama, dan bersukacita dalam setiap momen nan kami habiskan bersama. Kami tidak dapat dipisahkan. Dia tetap berada di sisiku, pendukung setia dan terkasihku di setiap momen selama 27 tahun kami bersama. Setiap kali saya terpuruk, dia memelukku dan mendengarkanku dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan penerimaan. Saya pernah bertanya kepadanya, “Bagaimana Anda bisa memberi saya begitu banyak?” dan dia berkata, “Aku hanya mencintaimu, Jamie.” Pada tahun terakhir hidupnya, kami mulai mendapat firasat bahwa dia bakal meninggal lantaran kecelakaan. Kami hanya tidak tahu kapan dan di mana.

TERKAIT: Kecelakaan Tragis Suamiku Menguji Sumpah Pernikahanku

Pada hari kami berangkat untuk liburan musim panas terakhir kami di Italia, petir menyambar punjung mawar kami dan menghancurkannya. Kemudian, sedikitnya 50 burung gagak muncul di halaman. Saya mengabaikan pertanda tersebut, dan kami melakukan perjalanan ke Sperlonga, Italia sesuai rencana. Bertengger tinggi di atas tebing berbatu, tembok berbenteng bercat putih di kota resor Romawi antik ini menjulang megah di atas selimut biru tak berujung teluk di bawahnya. Topi putih berkibar seperti potongan renda nan terombang-ambing di air nan berombak luar biasa. Setelah berhari-hari diguyur hujan, langit akhirnya cerah, dan kami menuju ke pantai. Saat kami berbicara, saya perhatikan Jean mengangkat tangan kirinya ke atas kepala, seolah menghalangi sinar matahari. Tiba-tiba seekor lebah menukik ke bawah dan menyengat telapak tangan kirinya.

“Kita kudu segera ke rumah sakit,” dia berhasil. “Saya tidak bisa bernapas.” Aku bisa mendengarnya berjuang mencari udara. Cairan berderak di paru-parunya, naik seperti air bah nan menakut-nakuti bakal menenggelamkannya. Aku melaju sepanjang jalan sembari menggumamkan sesuatu, apa pun nan mungkin bisa menenangkannya. Itu mungkin bisa meyakinkan saya. “Kamu mendapatkan apa nan didapat bayi,” saya mengoceh. “Ini seperti croup. Jangan khawatir. Rumah sakit bakal membantumu.” Aku memandangnya dengan curiga. “Aku mencintaimu,” kataku, dengan segenap kepercayaan nan ada di hatiku. Dia berkata, “Aku mencintaimu.” Ini adalah kata-kata terakhir nan dia ucapkan kepadaku. Saya tidak pernah menciumnya alias mengucapkan selamat tinggal padanya sebelum dia jatuh pingsan dan jantungnya berakhir berdetak.

Kembali ke bilik lodge, saya ambruk ke tempat tidur. Suara sesak napasnya terdengar di kepalaku seperti kegagapan nan tak ada habisnya. Terukir di otakku gambaran wajah elok kekasihku nan elok berubah menjadi merah. Rasa sakit di hatiku menyengat dadaku. Telingaku serasa pecah lantaran bunyi jantungku nan berdebar kencang. Saya percaya saya sekarat lantaran serangan jantung alias patah hati. Saat saya berebahan miring di tempat tidur, menangis dan gemetar ketakutan, saya merasa seolah-olah saya terjatuh ke dalam lembah kesedihan dan keputusasaan. Tiba-tiba saya merasakan rayuan lembut nan memanjang sepanjang tulang punggungku. Aku melirik dari kembali bahuku. Tidak ada apa-apa. Tidak ada seorang pun di sana. Tapi dia ada di sana; dia telah bersamaku sejak saat itu.

TERKAIT: 5 Cara Mudah Memberitahu Orang Tercinta Anda nan Telah Meninggal Sedang Menghubungi Anda

Jean telah meminta saya untuk menceritakan kisah kami dan membagikan manifestasi rohnya nan ajaib dan berkepanjangan (sering kali di depan para saksi) agar bumi tahu, untuk memberi tahu Anda, bahwa kita tidak meninggal dan hubungan kita tidak berhujung dengan kematian. Sebagai hasil dari pengalaman saya, dorongan dari kawan dan pasien, serta Hay Area, saya telah menulis sebuah buku, Cinta Tidak Pernah Mati, di mana saya menyajikan metode terapi duka baru saya nan sangat berbeda dari pendekatan Barat nan meminta orang untuk berduka, melepaskan, dan melanjutkan hidup. Hal ini membikin orang nan bersungkawa mengalami kerugian nan lebih besar.

Cinta Tidak Pernah Mati memandu Anda untuk menyapa, bukan selamat tinggal. Bagaimana menciptakan keadaan reseptif dan gimana mengenali tanda-tanda kehadiran roh, sehingga Anda dapat menjalin kembali hubungan Anda dengan orang nan Anda cintai tanpa support medium. Masih ada lagi. Aku tidak bisa memikirkan seseorang nan tetap hidup nan tidak memendam urusan nan belum selesai dengan seseorang nan sudah meninggal. Meskipun terapi duka tradisional Barat tidak memberi kita solusi, teknik Conversation dengan Almarhum saya, seperti langkah saya berbincang dengan suami saya nan sudah meninggal, menawarkan Anda langkah nyata untuk berbaikan dengan almarhum. Saya sangat senang untuk melaporkan bahwa kesembuhan dan kedamaian nan dialami almarhum sungguh luar biasa dan sangat memuaskan.

Cerita Terkait Dari YourTango:

TERKAIT: Inilah Bukti Bahwa Orang nan Hilang Selalu Bersamamu

Jamie Turndorf adalah pendiri Tanya Dr. Cinta dan telah ditampilkan di CNN, CBS, VH1, WebMD, dan MSNBC sebagai master hubungan.

Selengkapnya
Sumber Kabar SekitarKita
Kabar SekitarKita