Para pengambil kebijakan BOJ melihat perlunya memperlambat kenaikan suku bunga di masa depan, ringkasan bulan Maret menunjukkan Oleh Reuters

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Oleh Leika Kihara

TOKYO (Reuters) – Banyak pengambil kebijakan Financial institution of Japan memandang perlunya mengambil langkah lambat dalam menghapuskan kebijakan moneter ultra-longgar secara bertahap. Salah satu personil majelis mengatakan kesehatan perekonomian tidak menjamin kenaikan suku kembang secara cepat, berasas ringkasan opini pada pertemuan financial institution tersebut pada bulan Maret. .

Dalam pengambilan keputusan berhistoris minggu lampau untuk mengakhiri suku kembang negatif, majelis terpecah mengenai apakah perekonomian cukup kuat untuk menghadapi keluarnya suku bunga, ringkasan menunjukkan.

“Bahkan jika BOJ mengakhiri kebijakan suku kembang negatif, mereka perlu menekankan sikap hati-hatinya lantaran perekonomian tidak berada dalam kondisi nan memerlukan kenaikan suku kembang secara cepat,” kata salah satu personil BOJ.

“Penting untuk dikomunikasikan dengan jelas… bahwa perubahan dalam kerangka kebijakan moneter kami nan diusulkan pada pertemuan ini bukanlah peralihan rezim ke arah pengetatan moneter, melainkan upaya untuk mencapai goal nilai kami,” kata personil lainnya.

BOJ mengakhiri delapan tahun suku kembang negatif dan sisa-sisa kebijakan tidak lazim lainnya pada minggu lalu, membikin perubahan krusial dari fokusnya pada peningkatan pertumbuhan melalui stimulus moneter besar-besaran selama beberapa dekade.

Pendapat nan ditampilkan dalam ringkasan tersebut menggarisbawahi preferensi BOJ untuk bergerak perlahan dalam kenaikan suku kembang di masa depan, dan dapat menjaga yen Jepang di bawah tekanan lantaran penanammodal konsentrasi pada kesenjangan nan tetap besar antara suku kembang AS dan Jepang.

Pada pertemuan tersebut, beberapa pengambil kebijakan mengatakan information terbaru, seperti kenaikan bayaran besar-besaran nan ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan besar, membenarkan diakhirinya kebijakan ultra-longgar lantaran pencapaian berkepanjangan dari goal inflasi 2% financial institution sentral sudah di depan mata, ringkasan tersebut menunjukkan pada hari Kamis.

Namun beberapa personil majelis menyerukan pengawasan lebih lanjut mengenai apakah kenaikan bayaran bakal menyebar ke perusahaan-perusahaan kecil, dan sejauh mana ekspektasi kenaikan biaya tenaga kerja mendorong kenaikan nilai jasa, ringkasan tersebut menunjukkan.

“Siklus baik kenaikan nilai dan bayaran tetap belum bisa dianggap lebih forged secara nasional,” salah satu opini menunjukkan.

Keputusan pada pertemuan tanggal 18-19 Maret untuk keluar dari kebijakan ultra-longgar dibuat dengan bunyi 7-2 dan mantan akademisi Asahi Noguchi dan mantan pelaksana perusahaan Toyoaki Nakamura berbeda pendapat.

Salah satu personil menentang penghentian pengendalian kurva imbal hasil dan suku kembang negatif secara bersamaan, menekankan perlunya untuk terus mendukung perekonomian dengan menahan suku kembang pinjaman, ringkasan tersebut menunjukkan.

Bahkan mereka nan mendukung keluarnya kebijakan ultra-longgaran menekankan perlunya mengambil tindakan dengan hati-hati, dengan salah satu personil mengatakan BOJ dapat “menghabiskan banyak waktu, dan bergerak perlahan namun pasti” menuju normalisasi kebijakan, ringkasan tersebut menunjukkan.

Meskipun ada kenaikan suku bunga, yen telah jatuh ke posisi terendah dalam tiga dasawarsa terhadap dolar lantaran pasar memperkirakan BOJ bakal memerlukan waktu untuk meningkatkan suku kembang lagi.

Menggarisbawahi fokusnya dalam mencegah lonjakan biaya pinjaman nan tiba-tiba, BOJ pekan lampau berjanji untuk terus membeli obligasi pemerintah “dalam jumlah nan sama” seperti sebelumnya, dan meningkatkan pembelian jika imbal hasil naik dengan cepat.

Saat ini, BOJ membeli sekitar 6 triliun yen ($39,6 miliar) obligasi pemerintah in line with bulan.

 Orang-orang melangkah di depan gedung Bank of Japan di Tokyo, Jepang 23 Januari 2024. REUTERS/Kim Kyung-Hoon/File Foto

Salah satu personil mengatakan BOJ kudu membiarkan imbal hasil jangka panjang bergerak lebih elastis dengan membiarkan jumlah pembelian meningkat alias menurun masing-masing sekitar 1-2 triliun yen dari degree saat ini, ringkasan tersebut menunjukkan.

($1 = 151,4300 yen)

2024-03-28 13:53:30

www.making an investment.com

Selengkapnya
Sumber Kabar SekitarKita
Kabar SekitarKita