Memahami Cara Kerja B2B dan Tantangan di Masa Depan

Sedang Trending 7 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Business to Business alias B2B adalah model upaya nan memungkinkan suatu perusahaan memproduksi produk dan jasanya untuk dijual ke perusahaan alias upaya lain. Ada banyak macam industri upaya nan bisa kita temukan saat ini, misalnya: perusahaan nan menjual bahan mentah, perlengkapan kantor, laptop alias perangkat elektronik untuk karyawan, hingga jasa konsultasi upaya dan pemasaran. Memahami langkah kerja B2B bakal membantu Anda memahami upaya ini dan apa saja tantangan di masa depan.

Bisnis B2B menghasilkan untung hingga 300% lebih tinggi dibanding B2C. Perusahaan B2B biasa menangani pembelian dalam volume besar. Sedangkan, perusahaan B2C kudu menjual secara satuan ke banyak orang untuk mengimbangi volume penjualan B2B. Akan tetapi, upaya B2B menghadapi banyak tantangan nan susah dihadapi. Bagaimana langkah kerja B2B dan langkah mereka menangani tantangan di masa depan ?

Cara Kerja B2B

Seperti nan pernah kita jelaskan saat menjelaskan pengertian B2B, model upaya B2B menjual produk dan jasa ke organisasi alias perusahaan lain. Biasanya penjualan B2B memerlukan perjanjian untuk menyediakan produk alias jasa tertentu nan dibutuhkan untuk periode waktu tertentu. Oleh karena itu, upaya B2B mengutamakan pelayanan agar pengguna loyal dan membuka kesempatan untuk pembelian berulang di masa depan.

Apa itu B2B

Bisnis B2B terlibat dalam rantai pasokan produk dari produsen ke konsumen. Perusahaan B2B menjual produk dan jasa ke perusahaan lain nan bakal menjualnya lagi ke konsumen akhir. Untuk mendapatkan hasil maksimal, upaya B2B biasanya mempunyai model campuran B2B dan B2C. Konsumen akhir tetap bisa membeli langsung dari anak perusahaan alias beli produk unik nan dijual untuk konsumen.

Posisi Perusahaan B2B dalam Rantai Pasokan

Setelah Anda memahami gimana langkah kerja B2B secara umum, selanjutnya kita bakal memahami di mana posisi perusahaan B2B dalam rantai pasokan produk. Untuk memudahkan Anda memahaminya, kami bakal membagi posisi B2B di rantai pasokan dalam 3 sektor, yaitu: Primer, Sekunder, dan Tersier.

  • B2B di Sektor Premier. Perusahaan B2B di sektor primer bekerja dengan langkah mengolah bahan mentah dari supplier untuk dibuat menjadi produk separuh jadi. Setelah itu, produk separuh jadi tersebut bakal dijual ke upaya manufaktur untuk diproses menjadi produk siap pakai.
  • B2B di Sektor Sekunder. Perusahaan B2B di sektor sekunder membeli produk separuh jadi dari upaya B2B primer. Perusahaan B2B ini memproduksi alias merakit produk separuh jadi menjadi produk siap pakai. Mereka bakal memberi nilai tambah pada bahan mentah nan dibeli dari pasar primer dan mengubahnya jadi sesuatu nan bisa dipakai konsumen.
  • B2B di Sektor Tersier. Bisnis B2B di sektor tersier menggabungkan model B2B dan B2C. Perusahaan membeli produk dari upaya sekunder lampau dijual kembali ke pengusaha retail alias grosir. Terkadang mereka mempunyai channel unik nan memungkinkan bisa menjual produk langsung ke konsumen. Namun, bukan ini konsentrasi mereka lantaran untuk menjalankan upaya B2C mereka kudu membagi konsentrasi upaya nan mungkin bakal menyulitkan operasional secara keseluruhan. Oleh lantaran itu, upaya B2C nan dijalankan hanya sebagai pelengkap saja.

Tantangan Menjalankan Bisnis B2B

Tantangan paling susah nan kudu dihadapi oleh upaya B2B saat ini adalah mencari perusahaan lain nan mau membeli peralatan dan jasanya. Jumlah konsumen B2B jauh lebih mini dibanding B2C. Contohnya bisa dilihat dari perbedaan e-commerce B2B dan B2C. Situs website B2C mempunyai jumlah pengguna lebih banyak dan luas jika dibanding B2B.

Walaupun begitu, perusahaan konsumen B2B menghabiskan lebih banyak duit untuk pengadaan dibanding konsumen akhir. Karena anggaran lebih besar, volume transaksi B2B lebih tinggi per satu kali transaksi. Bahkan perusahaan B2C kudu berupaya 3 kali keras untuk menyamai transaksi B2B. Intinya, walaupun transaksi B2B lebih sedikit, Anda untung nan didapat bisa lebih tinggi dibanding B2C.

Selain mencari pengguna B2B baru ada beberapa tantangan lain dari upaya B2B, yaitu:

1. Loyalitas Pelanggan adalah Segalanya

Menghadirkan penemuan adalah perihal krusial dalam upaya B2B. Inovasi nan dibuat kudu bermaksud untuk sediakan produk dan jasa komplit untuk pelanggan. Pemilik upaya B2B kudu menemukan langkah untuk meningkatkan kegunaan dan kemudahan pengguna dalam menggunakan layanan. Cara kerja B2B kudu mengedepankan kenyamanan pengguna agar mereka terus loyal.

2. Menjaga Situs Website Terpelihara Baik

Perusahaan B2B kudu berinvestasi penuh pada situs website. Tujuannya agar upaya Anda mudah ditemukan dan pengguna bisa mempelajari jasa nan diberikan. Pelihara website dan konten di dalamnya agar tetap up to date. Optimalkan teknik SEO (Search Engine Optimization) untuk mencapai posisi teratas di banyak keyword nan berasosiasi dengan jasa Anda.

3. Jaga Arus Kas Lancar

Kebanyakan perusahaan B2B dapat memberi kemudahan dalam pembayaran pada klien. Misalnya memberi tenggat waktu pembayaran mulai dari 30 sampai 60 hari setelah tagihan diterbitkan. Pastikan pengguna bayar tepat waktu dan tidak melewati pemisah nan ditentukan.

Keterlambatan pembayaran dapat menggangu operasional bisnis. Anda pasti butuh modal besar untuk menangani pembelian dari pengguna baru. Penundaan pembayaran ini bisa ditangani dengan mengatur duit masuk dan keluar secara teratur. Anda mungkin perlu batasi berapa banyak tagihan nan bisa dikeluarkan dalam setahun. Hal ini bakal mengurangi keterlambatan pembayaran nan bisa rawan untuk keberlangsungan upaya di masa depan.

Solusi kedua, Anda bisa ajukan opsi anjak piutang untuk mengatasi keterlambatan pembayaran. Anjak piutang adalah Anda menjual tagihan ke perusahaan pembiayaan dan menerima 70% alias lebih dari nilai tagihan tersebut. Ketika pengguna melakukan pelunasan, Anda bakal menerima sisa 30% dikurangi biaya manajemen anjak piutang.

4. Pelanggan Semakin Teredukasi

Era keterbukaan info memudahkan setiap orang mencari info tentang produk dan jasa. Sebagai penjual Anda kudu menyediakan info nan lebih mendalam, relevan, dan belum diketahui oleh orang umum. Anda kudu bertindak sebagai penasihat nan bisa dipercaya dalam memilih produk dan jasa nan tepat untuk klien.

Bagikan skill Anda dengan pengguna untuk memberi nilai tambah di luar produk dan jasa. Dengan begini, Anda bisa pengaruhi pengguna untuk mengambil keputusan lebih mudah. Pembeli nan mempunyai pengetahuan mendalam tentang produk dan jasa mengharapkan pengalaman shopping lebih personal. Sesuaikan hubungan Anda sesuai kebutuhan mereka nan spesifik.

5. Perbandingan Harga dengan B2C

Kebanyakan tim sales B2B sering menghadapi pengguna nan kerap membandingkan nilai dengan situs website B2C. Hal ini bakal menyulitkan pemilik upaya B2B untuk memberikan nilai nan kompetitif. Beban operasional perusahaan B2B nan tinggi, biaya lain nan kudu ditanggung, serta PPN membikin nilai nan ditawarkan lebih tinggi.

Untuk mengatasi tantangan ini, Anda bisa menawarkan Unique Selling Point untuk setiap peralatan alias jasa nan ditawarkan. Tawarkan juga opsi nilai elastis nan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Pelanggan juga suka dengan opsi pembayaran nan lengkap, misalnya: cicil bertahap, tenor pembayaran 30 sampai 60 hari, angsuran unik perusahaan, alias angsuran dengan sistem syariah.

Bhinneka Contoh Perusahaan B2B di Indonesia

Itulah langkah kerja B2B dan gimana menangani tantangan nan dihadapi di masa depan. Bhinneka adalah pionir e-commerce B2B di Indonesia. Kami menangani beragam macam pengadaan peralatan elektronik dan kebutuhan instansi untuk perusahaan alias lembaga pemerintah. Bhinneka juga mempunyai beragam macam solusi upaya ialah pilihan jasa komplit untuk meningkatkan efisiensi perusahaan Anda.

Selengkapnya
Sumber Kabar Tekno Bhinneka
Kabar Tekno Bhinneka