Kehamilan di komunitas LGBTQ+ – Sistem Kesehatan Mayo Clinic

Sedang Trending 6 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Menurut baru-baru ini Jajak pendapat Gallup8% generasi milenial — orang nan lahir antara tahun 1981–1996 — dan 22,3% Generasi Z — orang nan lahir antara tahun 1997–2004 — mengidentifikasi diri mereka sebagai LGBT, alias lesbian, gay, biseksual, transgender, alias interseks, dan tetap banyak lagi nan dapat mengenali identitas mereka.

Orang nan mengidentifikasi diri sebagai LGBTQ+ dapat mempunyai kehamilan dan bayi nan sehat melalui beragam jalur pembuahan. Namun, mereka mungkin menghadapi tantangan nan mempengaruhi kesehatan dan kehamilan mereka.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN

Perawatan kehamilan paling sering difokuskan pada orang hamil. Namun, tidak semua orang nan sedang mengandung mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Identitas kelamin mereka mungkin berbeda dengan jenis kelamin nan ditetapkan saat lahir. Terlepas dari jenis kelamin alias identitas, perawatan prenatal sangat krusial bagi orang nan sedang hamil.

Perawatan sebelum dan selama kehamilan

Penyedia jasa kebidanan memastikan bahwa semua pasien menerima perawatan nan komprehensif dan penuh kasih sayang tanpa memandang identitas kelamin alias orientasi seksual mereka. Perencanaan pra-kehamilan sebelum pembuahan, konseling genetik, alias skrining pekerjaan merupakan perihal nan krusial dalam membangun keluarga. Siapa pun nan berpikir untuk mengandung kudu mempertimbangkan jasa tersebut dan aspek akibat kesehatan pribadi apa pun. Selain itu, siapa pun nan mempertimbangkan terapi hormon untuk perawatan nan mendukung kelamin kudu berbincang dengan tim jasa kesehatan mereka apakah mereka mau mempertahankan kesuburan sebelum memulai pengobatan.

Komunikasi nan terbuka dan saling menghormati antara pasien dan tim perawatannya menciptakan lingkungan nan menumbuhkan kepercayaan dan inklusivitas, termasuk penggunaan kata tukar nan netral kelamin alias menegaskan gender. Masyarakat kudu menemukan tim perawatan nan dapat membikin mereka merasa nyaman untuk melakukan percakapan nan jujur ​​dan proaktif tentang segala kekhawatiran, termasuk pengalaman obstetrik alias kehamilan sebelumnya, trauma, pelecehan, alias kondisi kesehatan kronis.

Setiap kehamilan, persalinan, dan persalinan adalah unik, dan berfokus pada hasil nan sehat bagi ibu mengandung dan bayi dapat mengurangi kekhawatiran dan kekhawatiran.

Fokus pada support dan kesejahteraan

Dukungan selama kehamilan adalah prioritas, apa pun jenis hubungan alias statusnya. Sistem pendukung nan kuat dapat mencakup pasangan, keluarga, alias teman. Sangat krusial untuk menjaga kesehatan mental seseorang nan sedang mengandung selama kehamilan dan masa nifas.

Penelitian menunjukkan bahwa tingkat depresi pascapersalinan condong lebih tinggi pada family LGBTQ+. Orang dewasa LGBTQ+ mempunyai a kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi kesehatan mental dibandingkan orang dewasa heteroseksual. Faktor akibat gangguan pascapersalinan dan kekhawatiran dapat berasosiasi dengan kehamilan, kehilangan bayi, alias kelahiran prematur.

Pemeriksaan kesehatan mental dapat mengidentifikasi indikasi depresi selama kehamilan dan masa nifas. Meskipun ada kecenderungan untuk berfokus pada kesehatan bentuk seseorang selama kehamilan, krusial untuk terus mengevaluasi kesehatan emosionalnya selama perawatan obstetrik. Masyarakat tidak perlu ragu untuk mendiskusikan emosi alias perubahan suasana hati mereka selama kehamilan dengan tim perawatan mereka.

Seorang mahir kebidanan dapat mendiskusikan dan merekomendasikan pilihan pengobatan kesehatan mental nan kondusif selama kehamilan.

Menciptakan lingkungan perawatan nan inklusif

Perawatan kebidanan nan inklusif bagi golongan LGBTQ+ adalah bagian krusial dalam memberikan jasa kesehatan nan setara dan penuh kasih. Mulai dari perencanaan prakehamilan dan perawatan pranatal hingga persalinan, tim perawatan kudu mendukung dan menghormati semua orang, menemui pasien di mana pun mereka berada, tanpa memandang orientasi seksual, identitas gender, alias komposisi family mereka.

Upaya dan pendidikan nan berkepanjangan berupaya untuk menciptakan lingkungan inklusif di mana setiap orang menerima perawatan dan support nan mereka butuhkan. Percakapan terbuka antara pasien dan tim perawatannya membantu tim tersebut memberikan jasa berkualitas, support kesehatan mental, dan mengatasi masalah reproduksi sehingga semua orang merasa dihormati selama kehamilan dan perjalanan membangun keluarga.

Sara Robinson, MD, adalah master Kedokteran Keluarga di Mankato, Minnesota.

mayoclinichealthsystem.org

Selengkapnya
Sumber Kabar SekitarKita
Kabar SekitarKita