Kang Ace sebut Data Stunting di KBB Mencapai 20 Persen, Atau 3 Besar di Jabar, para Penerima PKH Harus Lakukan Ini

Sedang Trending 5 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Kang Ace saat Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) se-Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga di Tanjungwangi Water Park, Cicangkang Girang, Sindangkerta, Selasa (26/12/2023).

KBB, SekitarKita.id – Dengan memandang info nomor stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) nan sekarang mencapai 20 persen dari total populasi anak di Bandung Barat. Atau persentase itu menjadi terbesar ketiga di Jawa Barat.

Oleh lantaran itu, Tubagus Ace Hasan Syadzily Wakil Ketua Komisi VIII DPR meminta kepada para penerima Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menggunakan biaya PKH sebagaimana mestinya, seusai komponen nan telah ditetapkan.

Hal itu disampaikan Kang Ace sapaan berkawan Tubagus Ace Hasan Syadzily dalam sambutan di aktivitas Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) se-Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga di Tanjungwangi Water Park, Cicangkang Girang, Sindangkerta, Selasa (26/12/2023).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Stunting di KBB 20 persen. 3 teratas di Jawa Barat. Karena itu, ibu-ibu, jika ada PKH untuk ibu hamil, tolong gunakan untuk membeli makanan bergizi, susu, dan protein,” kata Kang Ace.

Hadir dalam aktivitas tersebut, Ketua DPD Partai Golkar KBB Dadan Supardan dan 400 KPM PKH dari Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga, KBB.

Kang Ace menyatakan, jika mau program PKH terus berjalan, sudah semestinya program PKH dimanfaatkan sesuai peruntukan.

Sebab, tujuan PKH adalah memastikan agar rakyat Indonesia, terutama nan berpenghasilan di bawah pendapatan rata-rata, agar dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Masyarakatnya sehat, bisa sekolah dan bagi masyarakat nan mempunyai keterbatasan bentuk bisa hidup secara normal. Karena itu, program PKH untuk empat komponen,” ujar Kang Ace.

Menurutnya, Komponen pertama adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita agar terlepas dari masalah stunting. Komponen kedua, anak sekolah, lansia, dan disablitas.

Kang Ace juga menebutkan, masalah nan tetap dihadapi Indonesia saat ini adalah stunting. Yaitu, kandas tumbuh kembang anak secara sempurna akibat kekurangan gizi dan nutrisi kronis. Anak nan terkena stunting mempunyai bentuk tidak sempurna dan IQ rendah.

Sehingga, anak tidak bisa menerima pengetahuan dan pengetahuan nan mungkin kelak masa depannya suram. “Karena itu, ibu-ibu hamil, menyusui, dan balita, kudu dipastikan mendapatkan makanan bergizi. Tidak boleh lagi, ibu-ibu nan mengandung lampau melahirkan anak stunting,” tutur dia.

“Tidak boleh lagi di Sindangkerta, Gununghalu, Rongga, ada anak nan tumbuh kembangnya tidak sempurna gara-gara kekurangan gizi. Terutama kudu dihindari makanan nan tidak bergizi,” ucap Ketua DPD Partai Golkar Jabar ini.

Komponen kedua PKH, ujar wakil rakyat dari wilayah pemilihan (dapil) Jabar 2 Kabupaten Bandung-KBB ini, adalah support pendidikan, SD, SMP, dan SMA, serta KIP Kuliah. Jadi, gunakan biaya PKH untuk kebutuhan pendidikan sebagaimana mestinya.

“Beli tas, buku, seragam. Saya tidak mau di kecamatan Rongga, Gununghalu, dan Sindangkerta, ada anak Indonesia nan semestinya sekolah, tetapi putus sekolahnya. Saya tidak mau di Indonesia ini buta huruf lantaran tidak sekolah,” ujar dia.

Ketiga, komponen lansia. Tidak boleh ada lansia, orang tua kita hidup telantar, apalagi kekurangan makanan. Keempat, komponen disabilitas. PKH diberikan untuk lansia dan disabilitas guna memastikan kebutuhan mereka terpenuhi dan hidup secara normal dan terlayani.

“Indonesia tidak bakal maju jika, anak-anaknya tetap stunting, kekurangan gizi, tidak mempunyai keahlian belajar nan baik. Karena itu, program PKH sengaja dianggarkan oleh Komisi VIII DPR untuk mengatasi masalah stunting, kesehatan, pendidikan, agar kesejahteraan masyarakat meningkat,” tutur Kang Ace.

Karena itu, Kang Ace sebagai wakil rakyat dari KBB, terlibat dalam merumuskan dan menganggarkan PKH sebesar Rp29 triliun. Tujuannya untuk masyarakat berpenghasilan rendah agar punya akses terhadap kesehatan, pendidikan, lansia, dan disabilitas hidup normal. Karena itu PKH kudu digunakan sebaik-baiknya.

“Karena ibu-ibu kudu berterima kasih menerima PKH. PKH hanya digunakan oleh 10 juta family dari 270 juta jiwa rakyat Indonesia. Saya tidak mau di mana saya menjadi wakil rakyat tidak memanfaatkan PKH sebagaimana mestinya,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Kang Ace mengingatkan kepada para KPM PKH untuk mencairkan biaya sendiri. Tidak boleh diwakilkan oleh orang lain. Dana PKH langsung ditransfer kepada penerima.

Dia juga mendorong para KPM PKH kelak lepas dari program PKH. Karena itu, Kang Ace mendorong agar PKH juga mempunyai komponen untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi. “Karena tidak selamanya kieu wae (sambil menunjukkan telapak tangan nan menengadah alias meminta). Tapi kudu begini (tangan di atas alias memberi). Dengan langkah apa? Usaha,” ujar Kang Ace.

  • Bahaya Pernikahan Dini

Dalam sambutannya, Tubagus Ace Hasan Syadzily juga menyinggung tentang ancaman pernikahan dini. Dia mengatakan, saat ini, berasas ketentuan perundang-undangan (UU), tidak boleh lagi anak di bawah usia 18 tahun dinikahkan.

Karena, kata Kang Ace, pernikahan awal juga menjadi penyebab stunting anak nan dilahirkan. Sebab secara fisik, anak nan berumur di bawah 18 tahun, bakal berakibat bentuk dan ilmu jiwa terhadap anak nan dilahirkan. Dia tidak siap untuk berumah tangga. nan terjadi, biasanya pernikahan awal mudah cerai.

“Punten di budaya masyarakat kita, pami tos janten jahe (janda herang), biasanya sudah tidak sekolah, rumah tangga gagal, anak telantar, dan akhirnya kembali ke lingkaran kemiskinan,” kata Kang Ace.

Selengkapnya
Sumber Kabar SekitarKita
Kabar SekitarKita