7 Hal yang Perlu Didengar oleh Anak Anda yang Sangat Sensitif

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Kita kudu mengajari anak-anak kita untuk mencintai dan menerima kepekaan mereka sejak usia muda, sehingga mereka tidak tumbuh dengan emosi hancur.

Anak-anak nan sensitif mempunyai serangkaian talenta unik. Namun, sensitivitas nan tinggi seringkali disalahartikan sebagai kelemahan.

Sebagai seseorang nan pernah menjadi anak-anak nan sensitif dan sekarang menjadi orang dewasa nan sensitif, saya ingat mata saya menyala-nyala di bawah silau lampu neon di sekolah. Rasa sesak akibat denims begitu membebani sehingga saya memilih legging hingga masa remaja saya. (Mungkin saya menjadi a guru yoga jadi saya bisa memakai legging daripada busana bisnis.) Aku tetap mengeluh tentang jahitan nan tidak nyaman di celana dalamku dan apalagi menulis lagu tentang itu.

Saya tahu gimana rasanya merasakan empati nan mendalam terhadap family saya dan emosi nan meluap-luap akibat ketidakadilan international. Saat saya duduk di sini menulis, saya memproses begitu banyak perihal dalam pikiran aktif saya sehingga susah mengatur pemikiran saya untuk tulisan ini.

Saya pernah berpikir ada sesuatu nan salah dengan diri saya, merasa seolah-olah saya hancur lantaran hal-hal “kecil” nan mengganggu saya dan saya mempunyai reaksi emosional nan kuat terhadap kekerasan alias kecantikan, tidak seperti orang-orang di sekitar saya. Kini, saya sadar bahwa pengalaman-pengalaman itu semua adalah bagian dari hidayah kepekaan nan tinggi, meski tidak selalu terasa seperti anugerah.

(Apakah Anda orang nan sensitif? Berikut 27 perihal “aneh” nan Anda lakukan lantaran Anda orang nan sensitif.)

Baru pada usia 30-an saya menerima kepekaan saya sebagai kekuatan dan mulai berbagi suara. Sekarang, Saya memimpin retret untuk orang-orang nan sangat sensitif dan introvert, bermaksud untuk membangun rasa mempunyai di antara kita nan merasa seperti orang luar lantaran sifat unik kita. Banyak peserta mengatakan kepada saya bahwa mereka meninggalkan retret ini dengan emosi baru.

Saya percaya krusial untuk mengajari anak-anak kita menghargai kepekaan mereka sejak usia muda, sehingga mereka tidak tumbuh dengan emosi hancur seperti saya. Beberapa sentimen nan saya sampaikan adalah kata-kata nan saya dengar semasa kecil, sementara nan lain adalah kata-kata nan saya minta pernah saya dengar.

Anda Bisa berkembang sebagai orang nan introvert alias sensitif di bumi nan bising. Berlangganan buletin e-mail kami. Seminggu sekali, Anda bakal mendapatkan pointers dan wawasan nan memberdayakan. Klik di sini untuk berlangganan.

Apa nan Perlu Didengar oleh Anak Anda nan Sangat Sensitif

1. “Semua emosimu bisa diterima.”

Pada titik tertentu dalam hidup Anda, Anda mungkin diminta untuk tidak menangis, terutama jika Anda adalah orang nan sensitif. Namun, meskipun air mata mungkin mendapat sedikit rasa hormat di masyarakat, lantaran meningkatnya kesadaran bakal kesehatan psychological, emosi seperti kemarahan dan kekhawatiran terus dinilai sebagai “tidak sehat” dan “tidak dapat diterima.”

Anak-anak nan sensitif diatur untuk mengalami seluruh spektrum emosi manusia, lantaran untuk semua orang nan sangat sensitif – anak-anak alias orang dewasa – emosi terpukul keras. Ketika kita memberikan izin kepada anak-anak nan sensitif untuk merasakan emosi mereka tanpa diberi tahu bahwa mereka buruk, mereka bakal mendapatkan faedah nan sangat besar. Kemudian, kita bisa mengajari mereka perangkat untuk mengubah emosi “negatif” seperti kemarahan menjadi bahan bakar imajinatif alias semangat untuk melakukan sesuatu nan konstruktif.

Berbicara tentang mengolah emosi, berikut 10 perihal imajinatif nan dapat dilakukan orang dewasa dan anak-anak sensitif untuk memproses dan menenangkan emosinya.

2. “Memiliki emosi nan kuat terhadap ketidakadilan adalah perihal nan sehat.”

Sebagai seorang anak kecil, saya menjadi sangat emosional terhadap isu-isu mulai dari rasisme hingga intimidasi. Seiring bertambahnya usia, perbincangan politik tentang ketidakadilan sering kali membikin saya menangis.

Anak-anak nan sensitif perlu mengetahui sejak awal bahwa tidak apa-apa untuk merasa emosional ketika memandang orang lain kesakitan. Ini adalah respons nan penuh belas kasih, bukan reaksi berlebihan. Daripada mengabaikan emosi mereka, kita kudu mengakui rasa sakit hati mereka. Kemudian, jika diperlukan, kami dapat menyarankan cara-cara agar mereka dapat mengambil tindakan nan berarti, seperti mengorganisir penggalangan dana, memberikan donasi, alias menjadi sukarelawan.

Inilah langkah Anda menenangkan emosi nan kuat untuk diri sendiri dan anak sensitif Anda.

3. “Beri tahu orang lain kapan Anda memerlukan waktu sendiri.”

Orang dewasa nan sangat sensitif bukanlah satu-satunya orang nan memerlukan waktu menyendiri. saya baru baru ini menonton video tentang seorang gadis mini nan menyatakan bahwa dia “hanya mau bersantai di alam jauh dari manusia”. Video itu membikin saya tersenyum, semampu saya – dia tampak seperti seorang introvert nan sensitif.

Seperti orang dewasa nan sensitif, anak-anak nan sensitif juga memerlukan banyak waktu untuk melakukan dekompresi setelah melakukan aktivitas nan merangsang seperti berguru alias pesta. Mereka memproses rangsangan secara mendalam dan mudah kewalahan karenanya. Ajari anak Anda nan sensitif untuk secara konstruktif meminta waktu menyendiri untuk mencegah potensi kehancuran di kemudian hari.

4. “Dengarkan tubuh Anda.”

Orang nan sangat sensitif seringkali sangat intuitif dan dapat dengan mudah mendeteksi kehalusan, apakah itu ekspresi kecewa temannya alias perbedaan lembut antara dua warna cat nan serupa. Sayangnya, pengondisian masyarakat sering kali membikin kita tidak memperhatikan sinyal intuitif tubuh kita. Saat tumbuh dewasa, kita mungkin diberi tahu bahwa kita “terlalu sensitif”, “bereaksi berlebihan”, alias perlu “menekan”, sehingga kita mungkin belajar untuk mengabaikan emosi dan ketidaknyamanan nan kita alami.

Sebagai orang dewasa, jika kita terbiasa mengabaikan apa nan diperintahkan tubuh kita, kita bisa mendapat masalah. Kita mungkin tidak menyadari saat kita capek dan butuh istirahat, alias kita bisa melewatkan tanda-tanda bahwa seseorang sedang melewati pemisah penting. Hal ini juga dapat membikin kita lebih susah untuk memandang apakah kita berada dalam hubungan nan berbisa alias kodependen lantaran kita mungkin tidak memperhatikan tanda-tanda peringatannya, seperti kemarahan, kelelahan, alias kebencian.

Kita dapat mengajari anak-anak nan sensitif untuk menyadari reaksi tubuhnya, seperti apa nan mereka rasakan setelah makan makanan tertentu alias menghabiskan waktu berbareng kawan tertentu.

5. “Tidak apa-apa untuk mengatakan tidak.”

Anak-anak terbiasa mendengar orang tuanya mengucapkan kata “tidak”, namun mereka sendiri biasanya tidak mendapat izin untuk menggunakannya. Tentu saja, menggunakan kata “tidak” merupakan sebuah keseimbangan nan rumit bagi anak-anak, namun jika didorong dengan penuh pertimbangan, perihal ini dapat menjadi bagian krusial dalam mempelajari batasan-batasan nan sehat.

Misalnya, Anda mungkin membiarkan anak Anda memutuskan apakah mereka mau menghadiri pesta ulang tahun Henry daripada mengirimkan RSVP secara otomatis. Atau, biarkan mereka memilih apakah bakal berasosiasi dengan tim olahraga alias kelas seni. Jika mereka tidak mau alias merasa terlalu sibuk, tidak apa-apa jika mereka mengatakan “tidak”.

6. “Luangkan waktu Anda untuk memprosesnya.”

Anak-anak nan sensitif, seperti halnya orang dewasa nan sensitif, sering kali memerlukan waktu ekstra untuk memproses informasi. Dalam bukunya nan penuh wawasan Peka, Jenn Granneman menjelaskan bahwa salah satu kekuatan sensitivitas adalah kedalaman pemrosesan. Artinya anak sensitif menyerap dan menganalisis info secara menyeluruh, menghubungkannya dengan gambaran nan lebih besar.

Meskipun pemrosesan nan mendalam dapat membikin hidup menjadi kaya dan berarti — memungkinkan orang nan sensitif untuk memperhatikan element alias mendapatkan wawasan nan mendalam — perihal ini juga dapat memperlambat segalanya. Bersabarlah dan berikan anak Anda waktu ekstra untuk memikirkan segala sesuatunya, baik saat mereka mengambil keputusan alias menjawab pertanyaan.

Apakah kekacauan hidup membebani Anda sebagai orang nan sangat sensitif?

Orang nan sensitif mempunyai perbedaan otak tertentu nan membikin mereka lebih rentan terhadap stres dan kecemasan. Untungnya, ada langkah untuk melatih otak Anda sehingga Anda dapat mengatasi tantangan kepekaan, mengakses talenta Anda, dan berkembang dalam hidup. Psikoterapis dan master sensitivitas Julie Bjelland bakal menunjukkan caranya dalam kursus on-line populernya, Pelatihan Otak HSP. Sebagai seorang Introvert, Pembaca nan budiman, Anda dapat mengambil potongan nilai 50% dari biaya pendaftaran menggunakan kode tersebut INTROVERTDEAR. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

7. “Dunia memerlukan orang-orang seperti Anda.”

Tidak ada keraguan bahwa bumi kita memerlukan lebih banyak empati, pendengaran, dan kesadaran – kualitas nan banyak dimiliki oleh orang-orang sensitif. Anak-anak nan sensitif juga bisa menjadi sangat analitis dan kreatif. Mereka adalah pemimpin masa depan nan berempati dan baik hati. Mari kita ingatkan mereka bahwa meskipun bumi terkadang kejam, kepekaan mereka adalah hidayah nan dapat membantu orang lain dalam banyak cara.

Lihat retret dan lokakarya saya nan bakal datang untuk orang-orang nan sangat sensitif dan introvert Di Sini.

Anda mungkin ingin:

Artikel ini berisi tautan afiliasi. Kami hanya merekomendasikan produk nan betul-betul kami yakini.

Selengkapnya
Sumber Kabar SekitarKita
Kabar SekitarKita