5 Gejala Kemarahan yang Tertahan – Asiako

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Banyak orang memandang kemarahan sebagai sesuatu nan buruk, sesuatu nan perlu mereka tekan, sembunyikan, alias segera hindari. Bertentangan dengan kesan umum ini, kemarahan adalah emosi krusial dalam jiwa manusia dan tidak boleh diabaikan alias disangkal. Mungkin berfaedah untuk belajar memperhatikan perihal ini dan menerima pesan nan mau disampaikan oleh kemarahan kepada kita. Melalui kemarahan nan tegas, kita memanfaatkan emosi manusia dan alam untuk memulihkan batas kita dan memperjuangkan kewenangan asasi kita. Kemarahan itu abstrak, dan keahlian untuk marah ketika seseorang menyinggung Anda adalah tanda kesehatan psikologis.

Sayangnya, lantaran beragam argumen mulai dari pengalaman family di masa kanak-kanak hingga kondisi sosial, banyak orang salah mengira kemarahan sebagai sesuatu nan “buruk” alias apalagi tidak bermoral, dan sangat menekan emosi alami ini. Namun nan dibatalkan tidak serta merta hilang.

Orang nan menginternalisasi kemarahan dalam tubuh dan jiwa mereka. Mereka mungkin mengarahkan kemarahan pada diri mereka sendiri dan menyalahkan diri sendiri dalam banyak situasi. Ketika mereka mengarahkan kemarahannya pada diri mereka sendiri, mereka mungkin mengalami depresi, kecemasan, dan somatisasi (perasaan berubah menjadi sakit bentuk alias penyakit fisik).

Gejala kemarahan nan tertahan

Berikut ini beberapa pengaruh kemarahan nan ditekan terhadap kita:

1. Depresi

Apakah Anda merasa sedih tanpa alasan?

Apakah Anda sering merasa putus asa dan hampa?

Apakah Anda kekurangan daya dan motivasi, apalagi untuk mencapai tujuan nan Anda tetapkan?

Pernahkah Anda merasakan kesedihan nan terpendam dalam jangka waktu nan lama?

Para psikoanalis telah lama mengetahui bahwa ketika kemarahan ditekan dan diarahkan ke dalam diri, perihal itu berubah menjadi depresi. Orang dengan kecenderungan ini merasa sedih dan frustrasi terhadap segala hal, padahal kenyataannya mereka marah terhadap sesuatu nan spesifik.

Orang-orang nan kemarahannya ditekan dan berubah menjadi depresi mungkin telah mengangkat sistem pertahanan nan dikenal sebagai identifikasi dengan agresor. Ketika mereka dianiaya alias diintimidasi ketika tetap anak-anak, sebagian dari jiwa mereka mengambil alih bunyi pelaku, dan bagian ini mengambil kehidupannya sendiri, mengabadikan pelecehan tersebut dalam pikiran orang tersebut. Mereka mungkin mempunyai “suara hati nan kritis” nan terus-menerus meremehkan mereka. Kritikus di dalam diri mereka terus-menerus menyerang mereka, sama seperti nan dilakukan orang tua, penindas, alias pembimbing nan kritis sebelum mereka.

Seseorang nan menahan amarahnya mungkin takut jika dia mengungkapkannya secara langsung, dia bakal ditolak alias ditinggalkan. Ketika perselisihan terjadi, ketakutan bahwa kemarahan bakal mengganggu hubungan mengambil alih semua emosi lainnya. Jika kemarahan diarahkan ke dalam diri sendiri, maka kemarahan tersebut bakal memburuk dan berubah menjadi rasa malu dan rasa bersalah. Disadari alias tidak, emosi malu dan bersalah ini memicu terjadinya depresi.

2. Penindasan

Beberapa orang telah belajar dari keluarga, sekolah, alias kepercayaan mereka bahwa kemarahan itu jelek alias apalagi tidak bermoral. Mereka takut bakal kekuatan kemarahan mereka. Ketika kemarahan muncul, mereka merasakan bentrok inside nan hebat. Pada saat nan sama, ada kekuatan untuk menghancurkan semuanya. Mereka mungkin segera mengalihkan fokusnya pada kebutuhan orang lain, alias “apa nan dibutuhkan oleh situasi mereka”, dan bukan pada kebutuhan mereka sendiri. Untuk menghindari konflik, mereka memilih menjadi pendengar alias pembawa tenteram dan bakal melakukan apa saja untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan.

Kecenderungan ini umum terjadi pada orang nan sensitif secara emosional dan sangat berempati. Pengalaman hidup mereka telah mengajarkan mereka bahwa mereka “terlalu berlebihan”, “terlalu dramatis”, “terlalu blak-blakan”, “terlalu peduli pada hal-hal kecil”, dll. . Secara sadar alias tidak sadar, mereka berupaya mengekang semangat dan energinya. Sebagai seorang anak, mereka bakal menundukkan kepala agar tidak membikin marah orang tua nan sudah depresi, alias memprovokasi orang tua nan agresif. Peran mereka dalam family adalah sebagai mediator alias orang nan tidak terlihat, dan mereka bakal melakukan segalanya agar tidak mengganggu siapa pun dengan kebutuhan emosional mereka. Mereka lebih memilih menyenangkan orang lain untuk menjaga perdamaian daripada mengungkapkannya dan mengambil akibat konflik.

3. Paranoid

Paranoia adalah pengaruh kemarahan nan ditekan nan jarang diketahui, namun bisa saja muncul. Ketika seseorang menekan amarahnya, terkadang mereka bisa menunjukkannya. Alih-alih mengakui bahwa ada sesuatu nan menyebabkan mereka merasa bermusuhan, mereka memproyeksikan emosi ini kepada orang lain dan menganggap orang lain bersikap bermusuhan. Mereka menganggap bumi sebagai tempat nan asing dan rawan serta susah memercayai siapa pun. Setiap kali mereka memaksakan diri, meski hanya dalam jumlah sedang, mereka mengalami ketakutan nan tidak masuk logika bahwa orang lain bakal membalas dan menghukum mereka.

4. Sikap merasa betul sendiri

Jenis kemarahan ini lebih tenang dan, apalagi jika diungkapkan, diungkapkan sebagai “frustrasi” alias “kesal.” Ketika kemarahan nan ditekan dikombinasikan dengan kecenderungan perfeksionis alias obsesif-kompulsif, kemarahan tersebut dapat terwujud dalam langkah nan jujur, di mana orang tersebut menjadi sangat kritis terhadap dirinya sendiri dan orang lain dengan standar nan ketat. Orang nan sangat perfeksionis memendam kebencian lantaran dua alasan: kebencian nan menumpuk pada diri sendiri lantaran tidak bisa memenuhi standarnya sendiri, alias pengabaian orang lain alias kurangnya ethical. Ketika mereka mendedikasikan hidup mereka untuk melakukan hal-hal nan benar, dan untuk mencapai standar nan tinggi, dapat dimengerti bahwa mereka bakal kecewa ketika orang lain tidak melakukannya, tetapi tampaknya “lolos begitu saja”.

Sering kali, orang nan mempunyai kemarahan nan betul tidak tampak marah, namun sangat beradab, terkendali, dan tegang. Karena mereka tidak suka menganggap diri mereka sebagai orang nan sedang marah, mereka jarang mengungkapkan alias mengakui emosi dendam. Ketika mereka merasa dibenarkan, mereka mungkin meledak menjadi kemarahan nan mengejutkan orang lain.

5. Agresivitas pasif

Kemarahan pasif-agresif sering kali melibatkan menahan diri. Orang tersebut mungkin melupakan sesuatu, mengabaikan tanggung jawabnya, menunda-nunda, alias melakukan tugas dengan buruk. Mereka mungkin bersikap dingin terhadap pasangannya, melontarkan komentar sinis, melupakan janji, alias dengan keras kepala menolak memenuhi permintaan apa pun. Seseorang dengan kemarahan pasif-agresif dapat secara lembut merasa bersalah pada orang lain dan membikin orang lain merasa bertanggung jawab atas ketidaknyamanan nan mereka alami.

Kemarahan pasif-agresif dapat merusak hubungan secara diam-diam dan bertahap. Mereka nan menderita kemarahan pasif-agresif merasa dihukum dan diserang tanpa mengetahui alasannya. Bahkan dengan niat terbaik sekalipun, mereka tidak tahu apa nan dapat mereka lakukan untuk meningkatkan hubungan dengan seseorang nan menyimpan kemarahan pasif-agresif.

Dampak dari kemarahan nan ditekan dapat berupa:

  • Gejala psikosomatis dan gangguan bentuk seperti sakit kepala, batuk kronis, dan masalah pencernaan
  • Mati rasa emosional
  • Kelesuan
  • Depresi alias stres
  • Kesedihan nan berkepanjangan tanpa argumen nan jelas
  • Kurangnya motivasi dan penundaan kronis
  • Mendesak untuk menyakiti diri sendiri
  • Ketidakmampuan memihak diri, sehingga membiarkan orang lain memanfaatkannya
  • Standar nan terlalu tinggi dan tanpa kompromi
  • Memiliki kritik jiwa nan keras
  • Ketidakmampuan untuk bersantai alias menikmati hidup
  • Bingung rasa diri dan kebingungan identitas
  • Disalahgunakan alias dimanfaatkan oleh orang lain lantaran ketidakmampuan untuk menegaskan batasan
  • Ketergantungan bersama
  • Paranoia dan kekhawatiran nan parah
  • Kecenderungan untuk menilai orang lain
  • Keterasingan dan isolasi sosial
  • Perilaku nan menyabotase diri sendiri
  • Ledakan tiba-tiba nan mengejutkan orang lain
  • Ketidakpuasan dengan hubungan dan persahabatan
  • Hubungan nan rusak, perselingkuhan dan perceraian

Kemarahan nan ditekan Ini adalah istilah nan merujuk pada kemarahan nan ditekan alias dipendam secara inside daripada diungkapkan secara terbuka. Kita bisa mempunyai argumen nan berbeda-beda dalam memendam kemarahan, seperti ketakutan bakal akibat alias kemauan untuk menjaga perdamaian dalam hubungan sosial.

Jika kemarahan terus-menerus ditekan, perihal ini dapat berakibat negatif pada kesehatan psychological dan fisik. Penting untuk mempelajari langkah menangani kemarahan dengan benar, seperti membicarakan emosi kita dan menemukan langkah untuk mengungkapkannya secara konstruktif dan tepat.

Jika Anda merasa amarahnya tertahan, langkah-langkah berikut mungkin bisa membantu:

  1. Mengenali kemarahanCobalah untuk mengenali emosi marah dan identifikasi sumbernya.
  2. Ekspresikan dengan benar: Temukan langkah untuk mengungkapkan emosi marah dengan benar, seperti menulis alias berbincang dengan orang nan dipercaya.
  3. Kontrol kemarahan: Gunakan teknik pengelolaan kemarahan seperti pernapasan dalam dan meditasi.
  4. Temukan support profesional: Jika Anda merasa kemarahan nan ditekan berakibat signifikan terhadap hidup Anda, ada baiknya Anda mencari support dari mahir kesehatan psychological.

Pengingat: Saya siap membantu, namun nan terbaik adalah berkonsultasi dengan mahir kesehatan psychological untuk mendapatkan saran nan disesuaikan dengan situasi pribadi Anda.

Selengkapnya
Sumber Kabar SekitarKita
Kabar SekitarKita